Merantau

Apa yang kudapat di tanah rantau?
Selain sekoper pakaian
pula segenggam buah tangan
serta pengalaman yang harganya
tak ternilai

Mereka mengajarkan agar
tak menyerah pada kenyataan
agar aku kuat menghadapi tekanan
Bahwa belajar bukan soal
bahasa dan hitungan
bukan sekadar ujian dan nilai
namun pada sikap tabah dan sabar
berjalan pada aturan
Dan pulang dengan senyuman

Rembulan Di Atas Kepala Sang Penyair

Rembulan melirik Sang Penyair
yang berjalan sendiri
Ia tak peduli
pilu hatinya siapa tahu
Setiap insan punya luka sendiri
Sang Penyair menulis puisi
untuk kekasih

Menanggung rindu lebih berat
ketimbang memeras keringat
Sementara jarak lebih menakutkan
ketimbang belantara di malam hari
Pada secarik kertas ia tuliskan
“Di pelukanmu
bara menjelma embun pagi”

Dua Paham yang Kusut

Di dunia pendidikan itu, secara sederhana, hanya ada dua titik ekstrem paham.

Satu: yang mempercayai bahwa pendidikan harus dilakukan dengan penuh disiplin, tegas, ketat, dengan durasi yang lama, dilatih berkali-kali hingga batas kemampuan, dsbgnya. Pernah menonton film2 kung fu? Maka itu murid2, harus dilatih habis2an agar menjadi pendekar hebat. Seperti itulah.

Dua: yang mempercayai bahwa pendidikan Continue reading →

Aku adalah Fatih Al-Karim

Aku adalah Fatih Al-Karim
Ayahku Agus, Ibuku Iin
Setiap hari mengasuh aku
Tak kenal lelah ataupun lemah
La..laa..la..la..lalaaa..laa..laa

**Saat mengasuh kadang ada saja ide yang saya dapat agar bisa menenangkan bayi, salah satunya dengan mengubah lirik lagu Aku Anak Gembala miliknya Tasya, ternyata menjadi Ayah tidaklah mudah.

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: