A. Riawan Amin: Satanic Finance

“Kalau yang terpenting dalam hidup Anda saat ini adalah meneruskan hidup, maka apapun pekerjaan dan kegiatan yang Anda lakukan, semata-mata tertuju untuk menghiasi dan mencukupi hidup. Lebih lugas lagi, mengumpulkan materi untuk menyambung hidup. Bagi saya, hidup bukanlah hal terpenting. Bagian terpenting dari hidup kita, semestinya adalah menyiapkan bekal bagi kehidupan abadi kelak setelah mati. Karena kehidupan yang sebenarnya, baru dimulai ketika napas penghabisan berembus.

Menyambung hidup penting. Tapi, memaknai hidup jauh lebih penting. Hidup yang bermakna adalah, ketika waktu hidup kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Ketika desah napas, gerak langkah kita menyatu dalam pengabdian kepada Sang Pemberi Hidup. Semua aspek hidup dijadikan media untuk meraih ridhoNya. Aspek ekonomi dan keuangan, tidak terkecuali. Dunia penuh dengan orang yang papa. Yang buntung lebih banyak dari yang beruntung. Kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan menganga. Namun, ketika satu sama lain saling membantu, yang kelebihan menolong yang lemah, spirit memaknai hidup menyala kembali. Sayang, yang kita temukan bukan kesenjangan berkurang, sebaliknya malah semakin tinggi.”

Continue reading →

Perampok Cerdas

Perampok berteriak kepada semua orang di bank :

” Jangan bergerak! Uang ini semua milik Negara. Hidup Anda adalah milik Anda ..”

Semua orang di bank kemudian tiarap.

Hal ini disebut “Mind changing concept – merubah cara berpikir“.

Semua orang berhasil merubah cara berpikir dari cara yang bisa menjadi cara yang kreatif.

Salah satu nasabah yang sexy mencoba merayu perampok. Tetapi malah membuat perampok marah dan berteriak, ” Yang sopan mbak! Ini perampokan bukan perkosaan!”

Continue reading →

Ode Buat Pak Wayan

Tiada lagi suara dentingan piano
yang dimainkan oleh jari-jarimu
Hilang tawa yang biasa terdengar di ruang tengah
Seperti saat aku singgah ke rumahmu dulu
belajar dan bercerita
Tentang sekolah, tentang rumah
tentang masa remaja, lukisan
tentang apa saja

Anak-anakmu pastilah bangga
Punya Ayah sepertimu
Yang kuat, berani dan ramah

Kini, tiada lagi yang tersisa
Hanya kenangan, jasa
dan kebaikanmu akan dikenang juga
Selamat jalan Pak Wayan

Ah, hidup sebentar sekali
Hanya menunggu giliran saja

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: