Surat Masa Depan: Kepada Aku di Tahun 2040

USIAKU saat menulis surat ini adalah 22 tahun, 9 bulan, 19 hari. Malam ini aku sedang bekerja shift sore pertama, melaksanakan tugas rutin seperti biasanya. Beban berada 113.4 Mega Watt, kecepatan putaran Turbin 3000 rpm dengan tekanan uap utama mencapai 12.61 Megapascal. Sementara itu 3 Unit Mill beroperasi dengan aliran bahan bakar maksimum. Membosankan memang, duduk sendiri di depan 5 buah monitor kecil dan 4 buah layar besar di depan mata sambil mengamati semua parameter peralatan. Namun itulah tugasku disini, aku diupah untuk hal ini.

Surat ini aku tulis untuk menyampaikan kabar masa lalu kepada Aku di masa depan.

***

Kepada Aku di tahun 2040,

Surat ini adalah surat yang ditulis di masa lalu, 27 tahun yang silam. Semua masih nampak cerah seperti masa mudamu yang gemilang, di tengah pencarian jati diri, diantara proses menuju kehidupan yang lebih baik kutulis surat ini kepadamu agar kau tahu bahwa yang kau miliki saat ini, apapun kondisimu sekarang adalah hasil dari keputusanmu di masa lalu.

Saat kau membaca tulisan ini, aku tahu semua keadaan sudah jauh berbeda. Keadaan alam, kota, hutan, gaya hidup, anak- anak muda, tetangga, jalan raya, gang kecil, sungai, pantai dan semua tempat- tempat yang dulu pernah kau singgahi. Semua telah berubah. Apapun bentuk perubahan tersebut, semoga selalu berubah menjadi baik.

Di tahun 2040, kau sudah berusia 49 tahun (itupun jika kau diberi umur panjang untuk hidup dan diberi kesempatan untuk membaca surat ini). Ketahuilah saat kau membaca surat ini kau terkejut menyadari bahwa betapa waktu begitu cepat mengantarkan kau melewati ruang dan waktu laksana sekejap mata dan tiba- tiba kau sudah berusia 49 tahun.

Saat kau membaca tulisan ini, segala kegundahan dalam hati yang sering kau igaukan dalam mimpi, kepingan misteri kehidupan seperti: jodoh, rezeki, anak- anakmu, tempat tinggal sudah terjawab. Dan kau mungkin akan tertawa kecil membayangkan betapa kecilnya dirimu ketika sedang menulis surat ini.

Kau pasti sekarang sangat bahagia, memiliki seorang istri yang baik, serta anak- anak yang lucu dan membanggakan, tinggal di rumah dengan halaman luas, menyeduh kopi menikmati matahari tenggelam ditemani istrimu, bukan begitu? Namun bagaimana dengan ibadahmu sekarang? Apakah kau barengi dengan amalan- amalan lain? Apakah kau sudah pergi ke tanah suci bersama keluarga tercintamu seperti impianmu waktu itu? Apa pekerjaanmu sekarang? Masih memasak listrik? Kau masih suka kamera? Apa kabar kuda besimu? Masih suka naik motor sambil hujan- hujanan? Maaf, banyak bertanya. Aku hanya iri kepadamu di masa depan, kau mengetahui semua masa laluku sementara aku tak sedikitpun mengetahui tentangmu di masa depan. Sebelum membaca surat ini pernahkah dalam hidupmu kau begitu merindukan masa lalumu, ingin sekali memutar waktu dan kembali ke masa mudamu. Saat kau masih bisa berlari sekencang mungkin tanpa khawatir sedikitpun tentang kondisi fisik, jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Kau masih sehat bukan? Apakah kau sudah mengenakan kacamata? Oh ya, apa kabar Emak dan Bapak serta saudara- saudaramu? Aku kangen sekali mereka.

Tak banyak hal yang ingin kusampaikan padamu terkait dengan surat untuk Aku di masa depan yang barangkali aneh. Namun setidaknya surat ini adalah pengingat diri agar aku mengusahakan kebaikan di hari ini untuk menjadikan masa depanku lebih berarti.

Apapun yang sedang kau hadapi saat ini, betapapun sulitnya kehidupan, tak peduli betapa menyesakkannya skenario cerita yang kau jalani, tetaplah tabah dan gagah menjalaninya. Aku memang tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun satu hal yang aku tahu bahwa masa depan itu ada di depan, bukan di belakang.

Salam hangat dari aku di masa lalu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: