Koki Listrik

"A man behind the lights". Agus Setiawan

Cerpen: Bahar dan Pasukan Semut

Kalau kau bertanya padaku, siapa anak paling nakal di desa ini. Jawabannya Bahar. Bocah laki- laki usia sepuluh tahun yang baru saja menginjak kelas lima Sekolah Dasar itu, namanya terkenal dari ujung desa hingga lereng Bukit. Kejadian ‘Ranjau Darat’ yang selalu diingat warga Bukit Barisan.

Menjelang petang, seorang supir Angkutan Desa marah besar karena ulah Bahar. Adzan sholat maghrib berkumandang yang menjadi penanda umat Muslim melaksanakan sholat malah menjadi momen sial bagi supir. Supir itu bernama Jon, nama lengkapnya Jono. Nama pemberian bapaknya yang dulu pengagum berat Jhon F. Kennedy. Jon, sehari – hari memang menjadi supir, tidak hanya mengantar penumpang namun juga mengangkut hasil pertanian yang hendak dijual di kota. Namun kali ini, Jon harus menerima kenangan dari Bahar.

Bahar yang kala itu perutnya mules beranjak ke Kakus belakang Masjid, seusai menuntaskan hajatnya, sepasang mata Bahar mencari plastik bekas. Entah setan apa yang membisiki kupingnya. Barangkali Bahar tertidur saat Ustaz mengajarkan doa sebelum masuk Kakus. Saat mengaji di Masjid, Bahar lebih banyak bermain ketimbang menghafal doa – doa.

Setelah cebok, dimasukkannya kotoran itu ke dalam plastik hitam lalu dilempar ke seberang jalan. Agar menjadi ranjau darat bagi yang menginjaknya. Bahar melemparkan plastik itu layaknya seorang Tentara yang melempar granat ke arah musuh, mirip aksi di Film. Ia membayangkan musuh yang teriak saat terinjak granat itu.

Hari apes memang tidak ada di kalender, lemparan Bahar salah sasaran. Senyum pongah itu berubah pucat. Ketika mobil L300 yang dikendarai Jon, persis melintas di depan Masjid saat plastik dilempar. Mobil itu berhenti mendadak. Kaki Jon menekan keras pedal rem. Panik. Suara klakson berbunyi, memecahkan langit sore.

Kotoran itu tercecer keluar dari plastik, menempel, mengalir di dinding kaca mobil. Mengeluarkan aroma yang khas, hasil makan sambal petai kemarin siang.
“Bajingan!” umpat Jon. Dia melompat dari dalam mobil mengejar Bahar.
Bahar berlari ketakutan. Dia mengutuk dirinya sendiri. Niatnya melempar salah sasaran. Anak-anak yang melihat peristiwa itu tertawa terbahak, Bahar berlari lintang pukang. Sore itu menjadi peristiwa yang tidak terlupakan oleh si Jon. Sumpah serapah keluar dari mulutnya, sambil mengelap kotoran yang masih tersisa di kap mobil.

***

Dengan napas terengah – engah. Bahar pulang ke rumah dengan wajah pucat. Ia menyembunyikan wajah pucatnya dengan senyum terpaksa. “Tuape cecengeh?” Ucap Mamak Bahar dengar tatapan mata serius, sambil menyiapkan makan malam. Bahar berusaha menyembunyikan kejadian barusan.

Katek, Mak ” jawab Bahar.

Ia segera masuk ke kamar dan membersihkan diri. Ia ingat besok hari senin, upacara di Sekolah.
Malam ini mamaknya memasak pindang ikan. Masakan favorit anak tunggalnya. Bahar menyantapnya lahap. Hingga ia lupa, kejadian ranjau darat barusan. Di dapur, hasil panen singkong kebun hari ini cukup banyak. Mamaknya sudah tak sabar ingin menjualnya ke kota.

***
Bahar berpikir, kejadian kemarin sore akan berlalu begitu saja, seperti angin berhembus. Namun, diluar dugaan. Suara Mamaknya, menggetarkan penduduk lereng Bukit. Membangunkan Bahar yang masih tertidur pulas.
“Bahar…”
“Banguuuun!” disusul dengan guyuran air dari tangan Mamaknya.
Bahar gelagapan, bangun dari tidurnya. Kasurnya basah. Mamaknya murka setelah pagi ini dapat kabar dari Tukang Sayur langganannya. Ternyata, insiden ranjau darat kemarin sudah tersiar dimana – mana. Seikat sayur kangkung dan ikan asin yang dibeli Mamaknya fajar pagi tadi, masih tergeletak diatas meja. Belum disentuh. Mamaknya belum bisa menerima kenyataan bahwa Bahar pelakunya. Apalagi saat tahu, bahwa yang jadi korbannya adalah Jon. Rekanan mamaknya yang biasa diminta tolong untuk mengangkut singkong ke Kota.

Wajah Bahar basah termasuk bantal tidurnya. Bahar bersungut, omelan mamaknya menjadi sarapan pagi ini. Kupingnya merah, bekas jeweran dari tangan Mamaknya.
Meski begitu, Bahar sangat sayang dengan mamaknya. Bapak Bahar sudah lama meninggal dunia, saat Bahar masih kelas 2 SD. Kejadian yang tidak akan terlupakan. Seekor harimau menerkam tubuh bapaknya di dalam hutan, saat pulang dari kebun.
Malam itu hujan turun rintik-rintik, seperti mengetuk atap rumah mereka berkali-kali. Angin dari arah bukit membawa suara aneh seperti geraman yang tertahan. Orang-orang kampung bilang, jika angin dari arah utara terdengar berat dan panjang, itu tanda ada binatang besar yang sedang turun dari hutan.

Bapak Bahar yang pulang terlambat dari kebun, berjalan sendirian menyusuri jalan setapak yang basah. Lampu senter kecil yang dibawanya hanya mampu menembus kabut sejengkal ke depan. Di kiri – kanan jalan, hutan tampak gelap pekat, barisan pohon karet menjulang seperti bayangan raksasa yang mengawasi.
Di tengah perjalanan, suara ranting patah terdengar. Lalu sunyi.

Sunyi yang tidak wajar. Sunyi yang membuat hewan-hewan kecil pun seolah menahan napas. Saat itulah, dari balik semak belukar, sepasang mata kuning perlahan muncul, menyala dalam gelap, seperti bara. Harimau itu berjalan pelan, tubuhnya merunduk, ekor bergoyang pelan di tanah yang becek. Geramannya terdengar rendah, hampir tidak terdengar, namun cukup untuk membuat siapa pun merinding.

Bapak Bahar mencoba mundur, namun tanah licin. Dalam hitungan detik, harimau itu menerkam. Suara teriakan, suara senter jatuh, dan suara gaduh dari semak semuanya bercampur menjadi satu. Bapak Bahar bertarung dengan Harimau dengan tenaga yang tersisa, namun cengkeraman harimau itu terlalu kuat. Kain baju robek, tanah teraduk, dan darah mulai mengalir, membuat hujan rintik – rintik malam itu berubah menjadi saksi bisu pertempuran yang tidak seimbang.

Dengan tangan gemetar, tangannya meraih batang kayu yang tergeletak, memukul sekuat tenaga ke sisi tubuh harimau. Harimau itu menggeram keras geraman yang menggema sampai ke Bukit lalu mundur sedikit. Kesempatan itu dipakai Bapak Bahar untuk bangkit, meski lututnya hampir tidak mampu lagi menopang tubuh. Namun hutan malam bukanlah tempat bagi manusia untuk menang.

Harimau itu melompat lagi, lebih cepat, lebih ganas. Benturan tubuh besar itu membuat tubuhnya terjatuh keras, menggesek tanah basah yang bercampur akar. Nafasnya tersengal, pandangannya mulai kabur. “Ya Tuhan, tolong hamba-Mu…” gumamnya lirih, suara yang hampir tak terdengar oleh siapa pun kecuali pepohonan.

Pada detik – detik terakhir, yang ia pikirkan bukan rasa sakit tetapi wajah kecil Bahar dan Istri yang ia tinggalkan di rumah. Hutan kembali sunyi. Hanya suara rintik hujan yang jatuh di dedaunan. Harimau itu perlahan menghilang kembali ke dalam gelapnya rimba.

***
Hari kesekian setelah kejadian ranjau darat. Mamaknya menatap wajah Bahar yang polos, sambil berkata: “Mamak ini malu, kau sudah besar tapi belum sunat. Apa kau juga tidak malu, hah?”. Bahar pura – pura tidak mendengar. Bahar takut disunat, sebab temannya selalu bilang sunat itu sakit seperti diiris sembilu, terus digesek – gesek hingga berdarah. Bahar ngilu membayangkan hal itu. Ia lebih memilih untuk tidur diluar sewaktu pernah diancam tidak boleh masuk ke rumah jika belum disunat.

“Laki-laki itu disunat, Bahar. Jika bapakmu masih hidup, dia pasti bangga anak bujangnya sudah disunat”.

Mamaknya masih terus membujuk. Bahar masih diam sambil menyelesaikan suapan nasi goreng terakhirnya. Bahar pergi ke sekolah setelah berpamitan dengan mamaknya.


Pelajaran hari ini, kesukaan Bahar. Kau tahu? Iya, matematika. Bukan karena Bahar suka berhitung. Bukan. Tapi karena guru ini tidak terlalu lama berada di kelas. Pelajaran matematika oleh Pak Hasan ini, berada di jam pertama. Setelah Pak Hasan mengabsen dan memberi tugas di papan tulis, maka dia pergi. Bukan karena malas. Bahkan Pak Hasan adalah sosok guru teladan di desa ini. Alasan guru ini pergi adalah karena sang guru harus berjuang untuk hidup, mengandalkan upah dari sekolah tidak membuat perut guru itu kenyang. Upah yang tidak seberapa, seringkali datang terlambat ketimbang tepat waktunya. Guru juga punya keluarga untuk dinafkahi. Kau tahu kemana guru ini pergi? Menjadi tukang ojek. Mengantar penumpang dari desa ke terminal bus. Lumayan, upah menjadi ojek ini sedikit membantu untuk makan keluarganya.
Namun, apa yang dilakukan Bahar saat Pak Hasan pergi? Bukan menghitung, apalagi menyelesaikan tugas yang diberikan. Ia pergi keluar kelas bersama teman yang lain. Ada yang bermain bola, ada yang bermain kejar-kejaran. Ada juga yang memanjat pohon mangga milik warga yang tidak jauh dari sekolah. Tidak ada yang mengawasi. Bangunan sekolah yang sudah tua itu, tidak memiliki banyak siswa. Orang – orang dengan ekonomi yang cukup akan berpikir dua kali untuk memasukkan anaknya ke sekolah ini.
Bahar berhenti sejenak bermain. Ia berjalan ke belakang sekolah, mencari tempat favorit untuk buang air kecil. Jangan kau tanya toiletnya dimana, kawan. Bangunan toilet sekolah itu sudah mirip tempat jin buang anak.

Bahar sedikit tergesah membuka resleting celananya. Kebelet. Rasanya sudah diujung. Bahar bernapas legah sambil menikmati aliran kemih yang keluar. Matanya melihat ke bawah. Ada hal yang menarik pemandangan. Sebuah sarang semut merah terpampang tidak jauh dari tempat jatuhnya air kemih. Bentuknya seperti gunung kecil, di tengah-tengah ada lubang. Terlihat beberapa semut lalu lalang. Bahar tersenyum pongah. “Mainan baru”, ucapnya dalam hati. Bahar segera mengarahkan rudal airnya ke sarang semut. Seketika sarang semut basah. Air membasahi permukaan sarang dan menghancurkan gundukan sarang. Sebagian masuk ke dalam lubang. Semut- semut yang berada diluar, terombang-ambing hanyut oleh arus air kemih, ada juga yang tenggelam. Bahar tertawa seru, hingga giginya terlihat.

Satu semut selamat dari terjangan air, masuk ke dalam sarang sambil berteriak, “Banjiiiir, banjiiirr Tuan Ratu”. Napasnya tersengal, begitu juga dengan semut lain yang berlari kocar – kacir menyelamatkan telur mereka. Semut Prajurit ini melanjutkan laporan, “Seorang anak manusia mengencingi sarang milik kita, Ratu”.
“Apa?”
“Maksudmu, air ini bukan air hujan?” tanya Ratu Semut memastikan.
“Bukan, Ratu” ia menjawab dengan mantap. “Ini air kencing, Ratu” ucap Semut Prajurit.
“Dasar, tidak tahu diri!”. Wajah Ratu Semut memerah. “Segera selamatkan semua semut yang masih dapat ditolong, evakuasi anak – anak, telur dan makanan ke tempat yang aman”. Perintah Ratu kepada seluruh Semut Prajurit yang tersisa.
Bagaimana tidak, sarang itu baru saja dibangun. Setelah mereka terusir oleh kawanan belalang. Pasukan semut telah bersusah payah mencari lokasi baru, kemudian membangun sarang ini.


Lubang sarang semut semakin dipenuhi air. Termasuk Ratu Semut yang kini hampir tidak bisa menyelamatkan diri dari air bah ini. Sebelum air itu menenggelamkan seluruh sarangnya, Sang Ratu berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, berilah pelajaran anak manusia ini”. Doa itu terucap dari Sang Ratu, menembus ke langit. Doa semut yang terzalimi. Tidak ada lagi tirai yang membatasi. Doa itu langsung dikabulkan langsung oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


Bahar yang masih asyik mengarahkan rudal airnya, mengambil aba – aba untuk mengembalikan rudal ke tempat semula. Badan Bahar bergidik sejenak, puas melihat sarang semut itu hancur. Namun, tidak disangka. Tiba-tiba Bahar berteriak keras, ketika jari yang bertugas menutup resleting celana lebih cepat daripada gerakan rudal yang masuk. Ujung rudal Bahar terjepit resleting. Air mata mengalir. Bahar berjalan tertatih – tatih. Teman sekitar yang mendengar teriakan itu mendatangi Bahar. Ada yang tertawa lucu, ada juga yang kasihan. Tidak lama, datang Pak Hasan yang baru saja mengantar penumpang. Tanpa pikir panjang, Bahar dibawa ke Puskesmas. Tempat biasa Dokter Asep bertugas. Si Tukang Sunat.


“Kondisinya tidak memungkinkan lagi, untuk ditarik ke tempat semula” ucap Pak Asep kepada Mamak Bahar. Mamak Bahar mengangguk pelan. Seolah menyetujui. Teriakan Bahar masih memenuhi ruang Puskesmas. Siang itu, menjadi sejarah baru bagi Bahar. Bahar resmi disunat.


Rasa perihnya masih terasa hingga sore. Saat duduk di belakang rumah sambil memandangi Bukit Barisan, ia mengerti akan satu hal: Menjadi laki-laki bukan hanya soal berani, tapi juga berani berbuat benar, berani menjaga, dan berani tidak menyakiti yang lebih kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

error: Content is protected !!