Koki Listrik

"A man behind the lights". Agus Setiawan

Bujang Si Anak Sungai

Bujang namanya. Anak lelaki semata wayang pasangan Nurlela dan Jamhari. Usianya masih empat tahun waktu ditinggal mati bapaknya. Jamhari tewas tenggelam di Sungai Musi namun jasadnya tidak pernah ditemukan hingga hari ini. Ada yang mengatakan bapaknya dimakan “Hantu Banyu” penunggu Sungai Musi, sebagian lain ada yang mengatakan bapaknya mati karena penyakit asma yang kumat ketika mencari ikan di Sungai. Namun, Bujang masih terlalu kecil untuk mengerti semua hal itu. Satu hal yang ia tahu, sejak hari itu ia menjadi anak yatim.

Hari ini, bujang berusia delapan tahun, kelas 2 SD. Ia tinggal berdua bersama mamaknya. Mamaknya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual pempek di keliling Kampung Sungai Munawar. Kampung kecil ini menjadi tempat bermain Bujang dan teman-temannya. Selain menjadi penjual pempek keliling, mamaknya juga menjadi pembantu rumah harian seperti mencuci dan menyetrika baju. Seperti halnya anak lain, Bujang selalu ikut kemana ketiak mamaknya pergi. Bujang tidak punya banyak teman, bukan karena tidak ingin berteman sebab setiap kali teman lainnya mengajak bermain, selalu bermain ke Sungai. Sementara Bujang belum bisa berenang. Mamaknya selalu mewanti-wanti Bujang untuk tidak bermain ke Sungai. Agar tidak berujung petaka seperti almarhum bapaknya.

Namun demikian, ia punya satu orang teman dekat. Junet namanya. Nama aslinya Junaidi. Anak tetangga sebelah. Walau sebaya dengan Bujang tapi nasib Junet lebih merana dibanding Bujang. Junet hidup bersama neneknya yang sudah renta. Makan seadanya dan kadang harus berbagi makanan bersama Bujang, tapi bedanya Junet bisa berenang. Badannya kecil dari Bujang, dekil hitam dan sedikit panuan di punggungnya.

Suatu sore ketika mamak Bujang bekerja. Junet mengajak Bujang bermain ke tepian Sungai Musi. Junet bilang, dia akan membagikan satu rahasia kepada Bujang jika dia mau menemani Junet berenang. Bujang mengangguk. Sore itu Kapal pengangkut penumpang, kapal Ketek namanya, sering berlalu lalang di tepian Sungai Musi. Sesekali tercium aroma “amonia” yang datang dari Pabrik Pupuk yang tertiup angin.
“Bujang, kalau kau ingin bisa berenang sepertiku. Kau harus makan udang mentah.” kata Junet kepada Bujang
“Bebener bae Net?” Bujang bertanya seolah tidak yakin
“Udang ini, saat kau makan mentah. Maka ia akan menjelma kekuatan dalam dirimu, cangkang, kaki dan kemampuan berenangnya akan masuk tubuhmu. Setelah itu kau langsung bisa berenang?” Junet menimpali
“Kalo kau idak pecayo, cubokelah” tangan kanan Junet memberikan seekor udang Sungai yang baru ia dapat dari sela-sela batu.

Bujang tergoda dengan resep ajaib Junet. Seekor udang mentah dilumat habis oleh Bujang. Tanpa ba-bi-bu, Bujang mengambil aba- aba terjun ke Sungai. Ia lupakan pesan mamaknya agar tidak berenang di Sungai Musi. Ia yakin sekali, udang itu sudah merasuk dalam tubuhnya dan memberikan kekuatan untuk berenang.
Badan Bujang berdentum memecah permukaan Sungai. Junet memperhatikan dengan seksama. Tubuh Bujang tidak naik ke permukaan, yang terlihat hanya dua tangannya yang bergerak layaknya minta tolong. Suara Bujang terdengar seriring dengan air yang masuk dalam mulutnya. “Tolongg..”

Celaka! Ucap Junet
Sahabatnya tenggelam.
Junet melompat ke Sungai, berenang mendekati tubuh Bujang yang hampir lemas. Tubuh Bujang akhirnya terselamatkan. Bujang terbatuk – batuk di pinggir Sungai. Hampir tidak percaya, bahwa ia masih bisa hidup.
“Lolo nian kau ni, Net. Ampir mati anak manusio lantak gawe kau ni”
“Maaf nian Jang, aku kiro kau bakal biso berenang abis makan udang tu. Ini tu cerito dari Wak Kadir.
Dari ujung jalan, terdengar suara Mamak Bujang memanggil dengan tangan memegang sapu.
“Bujaaaang… balek!”
“Uji aku jangan mandi Sungai”
Teriakan mamaknya membuat Bujang dan Junet berlari. Aksi kejar-kejaran tidak dapat dihindari.
“Kau ni, Bujang! Sudah dibilang jangan mandi Sungai!” hardik mamaknya sambil menarik lengan Bujang.
Bujang hanya tertunduk. Dadanya masih terasa perih, batuknya belum hilang. Junet berdiri tak jauh, wajahnya pucat, tak berani banyak bicara.
Sejak hari itu, Bujang jadi takut mendengar suara air. Setiap kali melewati Sungai, ingatannya kembali pada air keruh yang menelan tubuhnya, dingin, gelap, dan rasa panik yang membuat dada sesak. Tapi ada satu bayangan lain yang lebih berat: bapaknya.

Malam itu, Bujang duduk di tangga rumah panggung. Sungai mengalir pelan di kejauhan. Mamaknya duduk di samping, suaranya lembut.
“Kau hampir menyusul bapak kau hari ni, Jang,” kata mamaknya pelan. “Mamak takut nian.”

Kata-kata itu menancap sangat dalam. Bujang menggenggam lututnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa marah, bukan pada Junet, bukan pada Sungai tapi pada dirinya sendiri, yang hidup di pinggir Sungai tapi tidak bisa berenang. Ia tidak mau mati konyol, tidak mau meninggalkan mamaknya seperti bapaknya dulu.
Besoknya, Bujang mencari Arjuna.

Arjuna dikenal sebagai anak yang paling jago berenang di kampung. Ia sering menyeberangi Sungai hanya untuk mengambil layangan yang jatuh atau membantu orang menambat perahu. Bujang mendatanginya dengan ragu.
“Jun… eh, Jun, Arjuna,” kata Bujang gugup, “kau biso ngajari aku berenang, dak?”
Arjuna menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Kau kapok mandi Sungai kemaren?”
Bujang mengangguk. “Aku dak mau mati tenggelam. Aku dak mau mamak nangis lagi.”
Latihan dimulai di tepian yang dangkal. Arjuna menyuruh Bujang belajar mengatur nafas, berpegangan pada batang kayu, membiarkan tubuh mengapung. Hari pertama, Bujang gemetar dan berkali-kali panik. Hari kedua, ia mulai berani melepas pegangan. Hari demi hari, takut itu perlahan surut, berganti dengan tekad yang kuat.
Lupakan Junet, lupakan mitos makan udang. Bujang kini fokus ingin berenang. Selepas pulang sekolah, membantu mamaknya menyiapkan jualan pempek lalu dengan semangatnya Bujang mendatangi Arjuna lagi. Begitu setiap hari.
Dalam Latihan renang itu. Kadang ia tersedak, kadang ia nyaris menyerah. Tapi setiap kali ingin berhenti, ia teringat wajah mamaknya, teringat bapaknya yang tak pernah kembali dari Sungai. Itu yang membuatnya bertahan.
Beberapa minggu kemudian, Bujang akhirnya bisa berenang menyeberang Sungai kecil tanpa bantuan. Ia terengah di seberang, lalu tertawa tawa lega yang selama ini tertahan.
Arjuna menepuk bahunya. “Nah, kini kau dak lolo lagi, Jang.” Bujang tertawa.
Bujang menatap aliran air yang dulu hampir merenggut nyawanya. Ia tahu Sungai tetap berbahaya. Tapi kini ia juga tahu satu hal: keberanian bukan berarti menantang bahaya, melainkan belajar agar tidak kalah olehnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

error: Content is protected !!