"A man behind the lights". Agus Setiawan
“Setetes keringat yang keluar saat bekerja jauh lebih berharga daripada airmata yang jatuh saat berkeluh- kesah”. SEPULUH bulan lalu ketika terakhir kali saya berkunjung ke kota Palembang, dalam perjalanan dari kota Palembang ke kota Prabumulih saya menyaksikan seorang lelaki tua berkumis tebal, berseragam coklat, berkulit hitam, berdiri di tengah jalan, sibuk mengatur lalu lintas. Ini…
“Rasa sakit itu hanya sementara”, begitu kata Ibuku Maka atas nama kesabaran Hari ini, kuberanikan diri untuk pergi ke Dokter Gigi Gigi-gigiku berteriak panik sebab kali ini gilirannya berduka Pada rahang ini tersimpan banyak ngilu dan nyeri yang menahun Aku benar-benar geram, tak kenal kasihan pada dua buah gigi yang berlubang Sudah cukup! Tak akan…
PAGI INI, naskah kedua novel saya Dwilogi Novel Sang Koki Listrik: Wasiat Segelas Pasir sudah selesai. Lega sekali rasanya meski di dalam hati sedikit deg-degan untuk menunggu hingga publish. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Penyayang yang telah memberi saya ide untuk menuliskan cerita ini. Mudah-mudahan novel kedua ini akan membawa banyak manfaat dan membuat…
PERKEMBANGAN telekomunikasi dan informasi berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang ada. Jika dahulu kita harus menunggu berminggu-minggu untuk mengirimkan sebuah surat lewat Pak Pos hingga sampai pada si Penerima maka hari ini kita hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk mengirimkan banyak tulisan baik itu surat, foto atau sebagainya melalui surat elektronik. Hebat, bukan? Begitu…
Sehabis pergumulan itu di penghujung subuh yang sendiri gelisah begitu terasa menusuk dada Kurapalkan kalimat-kalimat doa beserta lantunan dzikir memuja diri-Mu sebagai keniscayaan yang mesti ada Di pagi ini ada sunyi sebelum matahari mengintip hari tanah yang basah embun yang menggelayut di pucuk daun dan sepasang kaki yang menopang tubuh kerdil Jejak-jejak ini…
SEORANG Petani yang baru saja selesai membajak tanah di sawah beristirahat di bawah rindang pohon beringin. Pohon beringin itu besar dan menjulang tinggi, lebat daunnya, menjulur akarnya hingga ke bawah. Ia menyandarkan punggungnya yang basah oleh keringat sembari merenungkan betapa besarnya ciptaan Maha Kuasa. Lalu secara tak sengaja ia berpikir bahwa Tuhan bukanlah arsitek yang…
: Kepada Marita Indriyani Kita mengenang masa lalu seperti menyusun pecahan kaca Yang tak pernah jadi sempurna Retak seribu Ada yang hilang, ada yang terselip ada juga yang menancap di jarimu menoreh luka Darah mengalir senada tangis yang lindap di matamu Menjelma potongan kegelisahan yang kau simpan di bawah bantal Malam-malammu penuh tanya…