Koki Listrik

"A man behind the lights". Agus Setiawan

Kota Shanghai Hari Ini?

Shanghai hari ini bukan sekadar kota. Ia adalah sebuah visi masa depan yang terwujud dalam beton, baja, dan cahaya. Dan tentu saja, dibalik kota ini ada orang-orang yang memilki visi besar dalam hidupnya. Menatap cakrawala Pudong dari tepi sungai Huangpu, kita tidak lagi melihat deretan gedung biasa, melainkan sebuah kemampuan teknologi yang bergerak dalam harmoni yang nyaris mustahil.

Perjalanan saya melintasi Sungai Huangpu terasa seperti menembus lorong waktu. Alih-alih hanya mengandalkan kapal Feri yang bergerak pelan, kini saya melesat melalui terowongan bawah sungai yang canggih. Kereta canggih bawah sungai. Aman, stabil dan di dalamnya juga ada tempat Museum Astronomi anak-anak. Sebuah keajaiban teknik sipil yang menembus dasar sungai dengan presisi tinggi. Di atas tanah, teknologi hari ini telah mengubah segalanya: dari pembayaran nirsentuh yang terintegrasi di setiap sudut jalan, hingga sistem transportasi otonom dan jaringan 5G yang menjahit setiap aktivitas warga. Shanghai telah bertransformasi menjadi laboratorium hidup bagi inovasi dunia.

Jika kita memutar waktu kembali ke 30 tahun yang lalu di era tahun 1990an, perbandingannya sungguh mencengangkan. Kita tahu bagaimana keseriusan Negara Tiongkok berbenah dan bangkit. Lahan Pudong yang dulu sebagian besar lahan pertanian dan gudang kini menjadi pusat keuangan global dengan gedung-gedung pencakar langit, tidak hanya itu Shanghai hari ini menjadi pemimpin global dalam AI, ekonomi digital dan smart city. Shanghai telah berhasil bangun, bangkit, berlari dan melompat. Lompatan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari desain besar yang dieksekusi dengan disiplin mental baja.

Sebagai anak bangsa, melihat perkembangan kota Shanghai hari ini. Ada pesan tersirat yang sangat kuat bagi kita di tanah air. Kemajuan sebuah bangsa tidak turun dari langit; ia lahir dari keringat para pembelajar yang tak kenal lelah dan tangan-tangan yang berani bekerja keras. “Lompatan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten dalam belajar dan berinovasi.” Kita tidak boleh hanya menjadi penonton atau pasar bagi teknologi bangsa lain. Refleksi dari gemerlap Shanghai ini adalah tantangan bagi anak bangsa: mari kita bangun Indonesia dengan semangat yang sama. Terus mengasah keahlian, kuasai teknologi, dan cintai proses membangun negeri. Jika mereka bisa mengubah rawa menjadi mercusuar dunia dalam tiga dekade, maka kita pun punya potensi yang sama untuk membawa Indonesia melompat lebih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers:

error: Content is protected !!