"A man behind the lights". Agus Setiawan
Ceritakan padaku tentang dunia yang luas Sebuah tempat yang belum terjamah kaki Aku ingin pergi kesana sendiri Ceritakan padaku tentang kisah malam Ketika kegelapan menjadi bagian yang menakutkan Aku ingin berdiri tegak, menatap penuh keberanian
Putih warnamu Jatuh dari langit biru Kau bukanlah bulu bebek yang kukira Atau asap tebal yang kuduga Kau adalah salju.. Ku tak pernah bermimpi untuk melihatmu Ataupun untuk menyentuhmu
Menapaki lorong kecil di pagi hari Saat sang surya menerangi bumi Tas sandang dan sepatu hitam yang telah habis sebelah Menuju ke sekolah dengan senyum kecil di wajahnya Seolah dunia tersenyum padanya Saat sang surya meninggi Panas sinarnya menjadi teman setia
Bukankah awan sudah berjanji pada langit untuk setia mewarnai hari-hari biru? Bukankah angin sudah bicara dalam hembusannya untuk membawa kabar gembira? Namun kini lihatlah, awan pergi tak kembali. Angin menghembusnya jauh-jauh Mendung tak pernah lagi singgah menemani biru langit Sang mentari terus memanggang bumi
Awan mengabarkan hujan Membawa kabar basah pada tanah yang kering Tak mengerti, gerangan apa hujan turun berlapis sinar terang Disana mendung, disini terang Mungkin angin telah meniup bagian demi bagian Menyingkirkan jauh-jauh awan yang gelap
Kita tiba di ujung juli Ketika puluhan hari terpanggang terik mentari Malam ini jutaan anak hujan menari-nari Membasahi bumi Bertumpah ria dari atas awan Sesekali deras namun sesekali
Hatinya tenang meski sesekali bergelombang Kakinya setegar karang, menopang badan yang goyang Tangannya menggenggam erat janji Janji pada suami yang pergi berlayar Sabar, ucapnya pada diri Sembari menanti, harapan yang tak pasti Ketika senja menyapa langit Maka Ia adalah pagi yang terjepit Perempuan senja tetap setia Menunggu suami pulang bekerja Tapi apa? Apa hendak dikata…