"A man behind the lights". Agus Setiawan
Kasih diluar sana banyak sekali orang- orang yang ingin bertualang menyapa alam, mendaki bukit, gunung gurun, melintas samudera berkunjung ke kota- kota besar melanglang buana kemana saja Tapi aku apa? aku cuma ingin berada di sisimu saja
Kini cinta telah dikitakan betah dan tabah adalah yang kurasakan Untuk saling menguatkan, menemani dan berbagi Setia saling melengkapi Setia tanpa tapi Setia hingga nanti
UNDANGAN berbahagia yang sampai ke tanganmu berwarna merah muda dan putih pertanda kebahagiaan dan kedamaian yang diharapkan selalu menyertai. Tidak ada foto kami berdua disana, hanyalah tulisan permohonan do’a agar kami kelak mendapat rahmat dari-Nya. Acara pestanya sederhana saja, layaknya syukuran yang dilakukan di rumah. Yaa, di rumah. Bagi tamu undangan yang datang, kami sediakan…
Awal November ketika bulan hanya nampak separuh dan senyum di wajahku aku datang ke rumahmu membawa martabak keju Semoga ibu dan ayahmu akan senang dengan buah tangan itu Kukenakan kemeja warna merah simbol keberanian ksatria yang akan meminang seorang gadis melalui ayahnya Saat kau bertanya “kau tidak takut?” kujawab “kenapa takut” malam itu ketakutanku hanya…
“Tempat yang dirindukan ketika pergi, dan menjadi tempat nyaman ketika pulang. -Rumah”
Sungguh indah kisah seorang anak muda Ketika jatuh cinta diam-diam Tersipu malu saat tak sengaja bertemu Melirik selintas, hampir terjatuh Untuk kemudian berlarian menjauh Menghela nafas tersengal Tersenyum sendiri, meringis sendiri Sungguh indah kisah seorang anak muda Saat memendam perasaan sembunyi-sembunyi Menuliskan puluhan sajak dalam diary Juga menulis sajak saat menatap gerimis di depan rumah…
“Jika Alqur’an di rumahmu berdebu, hal serupa juga terjadi di hatimu”.