Waktu terus berlalu. Kesibukan kerja datang silih berganti, tanpa jeda. Tanpa terasa, sudah lama aku tidak datang. Rindu itu menumpuk, sementara langkah selalu tertunda. Hingga hari itu, akhirnya aku datang. Menapaki jalan kecil yang mengantarkanku menuju pusara bapak. Bersama istri, dan anak-anak. Dua cucu kesayangannya.
Kuburannya tampak berbeda. Rumput liar tumbuh tinggi, seolah ingin menyembunyikan jejak kenangan. Hampir menutupi batu nisan. Aku mulai membersihkan perlahan, mencabut, merapikan, sambil sesekali menarik napas panjang. Anakku yang pertama membantu. Di dalam hati yang dalam, ada rasa bersalah yang diam-diam ikut tercabut bersama akar-akar rumput itu.
Lalu, tiba-tiba tanganku terhenti. Dua bola mataku tertuju pada sesuatu.
Di sela-sela tanah yang mulai bersih, ada sesuatu yang membuatku terdiam, sebelas butir telur ayam. Utuh. Tersusun rapi dalam sarang kecil, tertutup oleh rumput-rumput liar yang masih hidup, seolah sengaja dirangkai dan dijaga. Aku terperangah. Bingung. Seolah tak percaya.
Di tengah sunyi tempat pemakaman, pemandangan sederhana ini sungguh tidak biasa.
Pikiranku mulai berkelana. Ini apa? Kebetulan? Atau… pesan?
Ada rasa haru yang pelan-pelan naik ke dalam dada. Antara bahagia dan sedih, bercampur menjadi satu. Bahagia karena seolah ada “hadiah” yang Allah SWT selipkan. Sedih karena aku sadar, sudah terlalu lama aku tak menjejakkan kaki ke tempat ini.
Dalam diam, aku bertanya pada diri sendiri. Apakah ini sindiran halus karena aku jarang datang? Atau justru…
Ini karunia kecil dari Tuhan, untukku, untuk menantu, dan untuk dua cucunya yang bahkan belum sempat benar-benar mengenal Kakeknya?
Dan pikiran itu membawa aku lebih jauh lagi ke masa lalu bapak.
Aku mulai mengingat-ingat…
Amalan baik apa yang pernah beliau lakukan? Kebaikan apa yang mungkin pernah ia tanam, yang kini tumbuh diam-diam, bahkan setelah ia tiada?
Karena bukankah kebaikan itu seperti benih, kadang kita tak pernah tahu kapan ia akan berbuah, dan di mana ia akan muncul.
Hari itu aku pulang dengan hati yang tidak sama seperti saat datang. Bukan karena menemukan jawaban, tapi karena menemukan rasa.
Rasa rindu yang kembali hidup.
Rasa bersalah yang berubah menjadi doa.
Dan rasa syukur… yang datang lewat cara yang tak terduga.
Mungkin, ini bukan tentang telur itu mengapa bisa ada di sana, atau apa maknanya.
Namun, tentang bagaimana Tuhan mengingatkanku. Bahwa hubungan antara yang hidup dan yang telah pergi, tidak pernah benar-benar putus.
Dan mungkin juga, itu cara sederhana untuk berkata:
“Bapak di sini, Nak… masih menunggu doa-doamu.”
Suara doa kami lantunkan bersama, air mataku tak terbendung, jatuh ke tanah.
Semoga Allah SWT menjaga dan menyayangi bapak di sana, sebagaimana bapak dulu menjaga kami tanpa lelah.
Dan aku…
berharap bisa menjalani hidup dengan lebih baik, lebih berarti,
hingga kelak kematian bukan lagi hal yang kutakuti, melainkan penawar dari dunia yang fana ini.
Yang pergi mungkin sudah tenang,
yang ditinggal… masih belajar ikhlas.
Sore itu benar-benar tidak terlupakan.
Rasa bahagia dan sedih bersamaan.
Agus Setiawan
Leave a Reply