Bapak Telah Pergi

PAGI ITU, awan-awan tipis menutupi sinar matahari. Tidak secerah biasanya, namun tidak pula mendung. Suara sirine ambulans menggema di sepanjang jalan. Tampak satu -dua petugas mengatur lalu lintas. Di dalam mobil ambulans, sepasang mataku hanya menatap keluar jendela. Menatap gedung bangunan, rumah-rumah dan jalanan nampak sepi. Di sepanjang jalan aku tak banyak bicara. Segala rasa bercampur dalam dada. Pikiranku saat ini hanya satu, mengantar jenazah bapak ke peristirahatan terakhirnya.

*
Semalam pukul 22.00 WIB anak-anak sudah tidur. Fatih dan Umar dua kesayangan kami terbaring pulas, sebelumnya asyik bermain bersamaku. Bermain kuda-kudaan, membacakan buku, mengaji sebelum akhirnya beranjak ke tempat tidur. Sekitar pukul 22.30 WIB aku beranjak keluar kamar, meninggalkan anak-anak yang tertidur pulas. Aku menyiapkan beberapa barang yang hendak kubawa ke tempat kerja. Sejak pandemi melanda, tempatku bekerja melakukan pembatasan akses keluar, membuat semua karyawan harus tetap berada di area kerja. Pulang ke rumah hanya jika mendesak saja, keluar pun harus sesuai izin, mengisi formulir dan mengikuti protokol.

Selesai menyiapkan barang-barang. Aku kembali ke kamar. Tapi mataku belum dapat terpejam. Malam itu aku gelisah. Semua posisi tidur kucoba, tak kunjung membuatku nyenyak, hingga tiba pukul 1 dinihari sebuah panggilan masuk menyampaikan kabar kepergian. Bapak telah tiada. Istriku terbangun dan keluar kamar, duduk menemani, airmataku jatuh.

*

Selepas subuh. Aku menuju Rumah Sakit. Lorong Rumah Sakit lengang. Terdengar hanya bunyi “tit.. tit.. tit”. Kakiku melangkah masuk ke ruangan. Disana terlihat Mamak yang duduk terdiam memandangi jasad suaminya yang sudah terbungkus kain. Aku memeluk Mamak erat, tangisan tumpah dari matanya. Suaminya telah tiada.

*

Selepas Jum’at petang setelah mendapatkan tanda tangan Pimpinan aku pulang ke rumah. Aku mengajak anak-anak untuk melihat Nek Lanangnya (baca: Kakek) besok pagi. Kami kerap menengok bapak di akhir pekan, bapak dirawat di desa. Karena itu sesuai permintaannya. Disana, bapak kerap bertemu dengan kawan lamanya, sanak keluarga di desa sedikit banyak menghibur perasaan hatinya. Kami sempat menyaksikan kondisi kesehatan bapak mengalami kemajuan saat itu, meski belum secara menyeluruh. Hal ini terlihat saat kami berempat tiba di sana. Wajah cerah bapak terlihat saat melihat dua cucu kesayangannya. Aku banyak mengobrol dengan bapak. Momen – momen indah yang tidak akan terlupakan.

Sakit bapak memang sudah parah, sebelum bapak minta pindah ke desa, bapak sudah sebulan terakhir hanya di kamar saja. Kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Namun fisik bukanlah satu-satu penyebabnya. Namun sejak di desa, begitu banyak perubahan. Dan perubahan nampak ketika kami hendak pamit pulang (karena besok aku harus bekerja kembali). “Ya mau gimana lagi , kondisi (pandemi) begini. Namanya kerja. Kalo libur datang lagi kesini. Cucuku, Fatih. Sampaikah Nek Lanang liat Fatih pake seragam SMP?” ucap bapak dengan mata berbinar menatap Fatih.
“Tentu saja sampai Nek, jawab Istriku, Nek Lanang akan sehat, normal kembali” ucap Istriku lagi penuh semangat. Lalu meminta Fatih dan Umar untuk mencium dan bersalaman dengan bapak.

Aku yang sudah siap untuk menyalakan mobil kembali ke tempat bapak berbaring, saat mendengar teriakan kaget Istriku. Aku turun dari mobil menghampiri, rupanya bapak memberanikan diri untuk berpindah ke kamar mandi seorang diri tanpa ditemani. Hal ini membuat kakak perempuan kami yang menjaga bapak kaget sekaligus bahagia, betapa tidak sejak dua minggu tinggal di desa, ini adalah hal pertama yang membuat takjub selain nafsu makan bapak yang perlahan pulih.

*
Setelah itu kesehatan bapak menurun dan memburuk, hingga akhirnya harus dibawa ke Rumah Sakit, untuk perawatan yang intensif. Sampai akhirnya bapak menghembuskan nafas terakhir.

*

Para Pelayat berdatangan: sanak saudara dari desa, jiran tetangga dekat maupun jauh, teman sejawat, teman sekantor. Pemberitahuan di WA datang berduyun-duyun, mengucapkan bela sungkawa atas kepergian bapak. Aku teringat ucapan kakak selepas menaikkan jenazah ke mobil Ambulans,

“Itulah hidup, semua orang akan merasakannya. Namun jika (kematian) sesuai abjad, kamu yang duluan Gus” ucapnya mencoba menghibur sambil menepuk pundak.

Pemakaman selesai sebelum waktu ashar. Orang-orang pergi meninggalkan pemakaman: keluarga, kerabat, tetangga, harta tiada satupun menemaninya selain amal ibadah, anak yang sholih dan ilmu yang bermanfaat. Beruntunglah orang-orang yang mengambil pelajaran tentang kematian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: