Awal pekan yang lalu, listrik di rumah kami padam, cukup bikin kesal, durasinya cukup lama, dari ba’da Maghrib hingga menjelang Subuh. Saya bersyukur listriknya nyala lagi. Namun, keesokan harinya, tepat di malam hari menjelang Isya, listrik padam lagi. Baru menyala saat tengah malam. Luar biasa. Siapa sih yang tidak kesal, kalo listrik padam? Sementara kebutuhan kita terhadap energi listrik sangat tinggi. Mengalami kondisi padam listrik ini tentu setiap individu punya level kesabaran yang berbeda, dan reaksinya bermacam-macam. Saya, sebagai seorang Profesional di sektor energi tentu paham betul kenapa hal ini terjadi. Dan disinilah tugas setiap pihak/individu yang paham untuk terus memberikan edukasi dan pemahaman yang baik.
Ketika listrik “byar-pet” atau “hidup-mati”, listrik sering padam, banyak orang langsung mengira penyebabnya dari PLTU. Padahal, tugas PLTU adalah memproduksi listrik, ya, memproduksi listrik. Itu saja. Bukan mengatur distribusi ke rumah-rumah. Namun di media sosial, obrolan di pasar, warung kopi pinggir jalan kita sering menjumpai kalimat bernada sentimen seperti ini:
“Percuma jadi Lumbung energi, kalo hujan dikit listrik mati”
“Ada PLTU Mulut Tambang terbesar di Asia Tenggara, tapi dusun kami mati lampu terus”
“PLTU: Pembangkit Listrik Takut Ujan, hahaa”
“Bisa gak listrik PLTU itu dikirim langsung ke Kota, biar Kota kita gak patpet lagi?”
PLTU itu seperti Waduk yang menghasilkan air, sedangkan jalur pipa dan pembagiannya diatur oleh pihak distribusi. Jadi kalau ada gangguan di pipa, bukan berarti sumber airnya bermasalah. Dalam sistem kelistrikan, pengaturan beban, jaringan, gardu, dan distribusi listrik dilakukan oleh PLN. Karena itu, listrik padam bisa terjadi akibat gangguan jalur, cuaca, pohon menyentuh kabel, perawatan jaringan, atau faktor distribusi lainnya.
Lalu, apa solusinya?
Kolaborasi, kunci dari semua hal ini. Misal saya sebagai warga, mengambil bagian untuk menjaga Right of Way (ROW) kabel agar bebas dari dahan pohon. Pak RT/RW bersama Pak Lurah memberikan edukasi kepada warga tentang pentingnya hal ini. Ulama/Tokoh Masyarakat memberikan edukasi agar dapat saling menjaga masyarakat turut menyampaikan pesan agar masyarakat saling menjaga, peduli, dan memiliki rasa tanggung jawab bersama terhadap fasilitas umum.
Pemerintah Daerah hadir melalui regulasi/peraturan, koordinasi, dan dukungan program yang berpihak pada keandalan infrastruktur kelistrikan. Polisi dan Tentara membantu menciptakan keamanan serta ketertiban lingkungan, agar kejadian seperti tiang listrik roboh karena ditabrak truk tidak terjadi lagi. Selain itu Aparat keamanan juga berkontribusi dalam menciptakan keamanan pada objek vital nasional lainnya.
Dengan kolaborasi seperti ini, keandalan pasokan listrik tidak hanya menjadi tanggung jawab PLN atau perusahaan pembangkit semata, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. Karena listrik yang andal bukan sekadar tentang lampu yang menyala, tetapi juga tentang terjaganya aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga ketahanan energi nasional.
Oleh karena itu, mari kita melihat sistem kelistrikan secara utuh dan bijak. Dan terus mengedukasi dengan kemampuan masing-masing. Selain itu, juga diperlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menghadirkan solusi, agar drama “byar-pet” ini bisa diatasi. Karena tujuan semua pihak sama: menghadirkan listrik yang andal untuk masyarakat.
Leave a Reply