Setengahnya Lagi Dimana?

“Sayang, malam ini aku ingin bercerita padamu perihal sepotong kenangan masa kecil. Maukah kau mendengarnya?”

Ia tersenyum sembari menganggukkan kepala.

Baiklah, akan kuteruskan cerita ini untukmu.

Dulu, ada seorang anak kecil yang takut pada gelap. Ketika malam tiba, ia selalu berharap supaya malam ini ia bisa lebih cepat terpejam agar tak melihat lampu petromaks di rumahnya dipadamkan. Ia tak ingin melihat gelap. Ia selalu bersembunyi dibalik selimut ketika malam menjelang. Usia anak itu masih kecil, bahkan belum cukup umur untuk masuk sekolah, untuk itu maka setiap pagi hari ibunya mengajarkan beberapa huruf dan angka. Begitulah setiap harinya.

Pernah pada malam tertentu, anak kecil itu belum juga mengantuk. Siang tadi ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Matanya tak kunjung terpejam, ia berharap agar ayahnya membiarkan lampu petromaks menyala hingga pagi tiba. Kabar buruk, malam itu ayahnya mengantuk sekali. Lampu petromaks itu dipadamkan lebih awal. Anak kecil itu bersembunyi dibalik selimut lagi.

Dari sebuah lubang di dinding kamar, bulan terlihat lebih indah. Sepasang mata anak kecil itu tak henti menatap keindahan bulan. Meski hanya menatap dari balik selimut anak kecil itu cukup senang, kini ia punya ‘lampu’ yang tetap menyala diluar sana.

Keesokan paginya, anak kecil itu bercerita pada ayahnya perihal ‘lampu’ itu. Ayahnya tersenyum, ia bilang: “itu bukan lampu petromaks, itu adalah bulan”. Setelah kejadian itu, meski lampu petromaks telah dipadamkan ia tak begitu takut sebab ia masih bisa menatap bulan dari celah dinding kamar yang berlubang.

Beberapa malam selanjutnya, ayahnya mengajak anak kecil itu berjalan-jalan keluar. Mereka membuat api unggun di halaman rumah, menikmati malam sambil memanggang jagung yang dibeli tadi siang. Sayangnya malam itu bukan malam bulan purnama. Bulan hanya nampak sebagian saja. Anak itu bertanya-tanya pada ayahnya.

“Setengahnya lagi dimana?”

Ayahnya diam sambil tersenyum, menatap wajah anak laki-lakinya yang sebentar masuk sekolah. “Kelak jika kau besar, kau akan tahu jawabannya”. Katanya.

***

Kau tahu? Akulah anak kecil itu yang sejak malam itu berjanji untuk membuang semua rasa takut terhadap gelap. Dan akhirnya aku tahu bahwa bulan setengah itu tidak pernah ada. Bulan tetap utuh, tak pernah berubah. Bulan menyembunyikan setengah cahayanya pada bumi sebab pada saat itu kedudukan bulan berada tegak lurus terhadap garis penghubung antara bumi dan matahari sehingga hanya tampak setengahnya saja bercahaya. Namun bukan itu yang ingin kukatakan padamu malam ini.

“Apa?”

“Sebab setengahnya lagi tersimpan dalam senyummu. Setiap kali kau tersenyum, maka bulan selalu tampak bersinar penuh dimataku”.

*Cerita ini saya masukkan ke dalam Dwilogi Novel Sang Koki Listrik yang sebentar lagi rilis. Insya Allah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: