Dari pinggir sungai menuju tengah kota,
dari kayuhan sepeda hingga motor tua yang setia
Suara khas dari knalpot itu kini lebih layak dikenang
daripada didengar.
Helai-helai rambut yang jatuh dari pisau cukurmu,
berguguran bersama waktu,
menjadi saksi
betapa sederhana caramu mencari nafkah,
namun begitu besar caramu mencintai keluarga.
Telapak tanganmu tak pernah pandai bercerita,
tetapi kapalan di sana menjelaskan segalanya.
Tentang lelah yang disembunyikan,
tentang doa yang tak pernah engkau ucapkan dengan suara.
Kini jalan pulangmu telah lebih dahulu sampai.
Sedang kami masih menempuh perjalanan
yang kau ajarkan dengan kejujuran, kesabaran,
dan ikhlas.
Bapak,
jika rindu ini tak lagi menemukan pelukanmu di dunia,
semoga ia menemukanmu dalam doa-doa yang menembus langit.
Dulu, kita berjalan di tepian sungai
Kelak, semoga kita bertemu di surga,
yang mengalir dibawahnya sungai-sungai
Agus Setiawan
Leave a Reply