"A man behind the lights". Agus Setiawan
Suatu ketika di sebuah SD yang berada di kota kecil, ketika sinar mentari bersinar terik dan langit biru memayungi langit sekolah itu. Lonceng berbunyi, pertanda berakhirlah sudah pelajaran hari ini. Murid-murid dari kelas sebelah berlarian keluar kelas, wajah-wajah ceria karena pulang sekolah terbias cerah. Namun tidak untuk kelas yang satu ini, ketua kelas baru saja…
Rentetan kata-kata meledak saja dari mulutnya. Entah itu fakta atau sekadar pembelaan atas rasa bersalah. Mata telah buta oleh tembok kekuasaan. Tangan-tangan besi memukul kebenaran. Memporak-porandakan keadilan. Rakyat jelata bingung bukan kepalang. Tak bisa bedakan mana salah
Salah satu hal yang paling saya senangi adalah kamera. Dengan sebuah kamera saya bisa mengiris sebuah momen dan membekukannya. Foto tersebut adalah bukti atas sebuah waktu yang tak berhenti meleleh. Foto mungkin hanyalah sebuah gambar tak bernyawa, meski di dalamnya tersimpan banyak kata yang hanya bisa terungkap lewat mata. Saya lebih suka membiarkan foto berbicara…
“Di dunia ini tak semua orang harus jadi Tentara, tak semua orang harus jadi Insinyur dan tak semua orang harus jadi Dokter. Ada yang harus jadi ahli sejarah, ekonomi, astronomi, psikologi bahkan ahli merangkai bunga. Setiap orang memiliki keahlian masing-masing dan itulah yang harus kita kejar. Dan yang paling penting adalah kerjakanlah apa yang menjadi…
Kadang jingga, biru tua, kadang pula merah Ia menutup hari lelah Kepulangannya pertanda Malam telah tiba.
Pada sebuah kursi punggung aku sandarkan sedangkan mata masih menatap layar komputer 17 inchi garis-garis berwarna yang bermakna ada hijau tanda siaga
Teringat percakapan tempo lalu. Kala seragam putih abu-abu masih melekat kuat. Entah ada angin apa, seketika percakapan itu terngiang-ngiang di telinga. Emak pernah bilang: “Terlepas dari apapun jenis pekerjaannya yang penting halal, dilakukan dengan ikhlas