Cerita Hujan #3

Bukankah awan sudah berjanji pada langit untuk setia mewarnai hari-hari biru?

Bukankah angin sudah bicara dalam hembusannya untuk membawa kabar gembira?

Namun kini lihatlah, awan pergi tak kembali. Angin menghembusnya jauh-jauh

Mendung tak pernah lagi singgah menemani biru langit

Sang mentari terus memanggang bumiContinue reading →

Perempuan Senja

Hatinya tenang meski sesekali bergelombang
Kakinya setegar karang, menopang badan yang goyang
Tangannya menggenggam erat janji
Janji pada suami yang pergi berlayar

Sabar, ucapnya pada diri
Sembari menanti, harapan yang tak pasti
Ketika senja menyapa langit
Maka Ia adalah pagi yang terjepit

Perempuan senja tetap setia
Menunggu suami pulang bekerja
Tapi apa?
Apa hendak dikata
Kapal suaminya tak datang juga
Hingga senja hari ini, ia masih menanti dengan setia

Pagi Ini Menjingga

Coba tanyakan pada pagi yang menjingga pagi ini. Apakah ia merindukanmu? Tidak. Kita yang selalu merindukannya. Merindukan sinar hangatnya yang bisa membangunkan setiap inchi sel tubuh yang kedinginan. Kemudian apakah kau menyadari sinar jingga yang kau lewatkan pagi ini bahkan ribuan pagi yang lalu telah membuat suatu keajaiban langit yang terlewatkan oleh lelapmu? Tidak. Kau bahkan lebih memilih melanjutkan tidurmu daripada melihat sinar jingganya. Lalu tanyakan pada rumput hijau pagi ini. Apakah ia masih menyimpan tetesan embun pagi? Iya. Namun kau sudah melewatkan waktu terlalu lama.

Sang surya sudah merangkak perlahan, menarik kembali sinar jingganya yang indah, rumput hijau sudah melepaskan tetesan embunnya yang menguap karena sinar sang surya. Dan sekarang kau ingin melihat mereka semua dan bertanya dimanakah mereka? Lalu kau berkesal hati dan menyalahkan semua.Continue reading →

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: