Putih warnamu
Jatuh dari langit biru
Kau bukanlah bulu bebek yang kukira
Atau asap tebal yang kuduga
Kau adalah salju..
Ku tak pernah bermimpi untuk melihatmu
Ataupun untuk menyentuhmuContinue reading →
Putih warnamu
Jatuh dari langit biru
Kau bukanlah bulu bebek yang kukira
Atau asap tebal yang kuduga
Kau adalah salju..
Ku tak pernah bermimpi untuk melihatmu
Ataupun untuk menyentuhmuContinue reading →
Menapaki lorong kecil di pagi hari
Saat sang surya menerangi bumi
Tas sandang dan sepatu hitam yang telah habis sebelah
Menuju ke sekolah dengan senyum kecil di wajahnya
Seolah dunia tersenyum padanya
Saat sang surya meninggi
Panas sinarnya menjadi teman setiaContinue reading →
Bukankah awan sudah berjanji pada langit untuk setia mewarnai hari-hari biru?
Bukankah angin sudah bicara dalam hembusannya untuk membawa kabar gembira?
Namun kini lihatlah, awan pergi tak kembali. Angin menghembusnya jauh-jauh
Mendung tak pernah lagi singgah menemani biru langit
Sang mentari terus memanggang bumiContinue reading →
Awan mengabarkan hujan
Membawa kabar basah pada tanah yang kering
Tak mengerti, gerangan apa hujan turun berlapis sinar terang
Disana mendung, disini terang
Mungkin angin telah meniup bagian demi bagian
Menyingkirkan jauh-jauh awan yang gelapContinue reading →
Kita tiba di ujung juli
Ketika puluhan hari terpanggang terik mentari
Malam ini jutaan anak hujan menari-nari
Membasahi bumi
Bertumpah ria dari atas awan
Sesekali deras namun sesekali Continue reading →
Hatinya tenang meski sesekali bergelombang
Kakinya setegar karang, menopang badan yang goyang
Tangannya menggenggam erat janji
Janji pada suami yang pergi berlayar
Sabar, ucapnya pada diri
Sembari menanti, harapan yang tak pasti
Ketika senja menyapa langit
Maka Ia adalah pagi yang terjepit
Perempuan senja tetap setia
Menunggu suami pulang bekerja
Tapi apa?
Apa hendak dikata
Kapal suaminya tak datang juga
Hingga senja hari ini, ia masih menanti dengan setia
Coba tanyakan pada pagi yang menjingga pagi ini. Apakah ia merindukanmu? Tidak. Kita yang selalu merindukannya. Merindukan sinar hangatnya yang bisa membangunkan setiap inchi sel tubuh yang kedinginan. Kemudian apakah kau menyadari sinar jingga yang kau lewatkan pagi ini bahkan ribuan pagi yang lalu telah membuat suatu keajaiban langit yang terlewatkan oleh lelapmu? Tidak. Kau bahkan lebih memilih melanjutkan tidurmu daripada melihat sinar jingganya. Lalu tanyakan pada rumput hijau pagi ini. Apakah ia masih menyimpan tetesan embun pagi? Iya. Namun kau sudah melewatkan waktu terlalu lama.
Sang surya sudah merangkak perlahan, menarik kembali sinar jingganya yang indah, rumput hijau sudah melepaskan tetesan embunnya yang menguap karena sinar sang surya. Dan sekarang kau ingin melihat mereka semua dan bertanya dimanakah mereka? Lalu kau berkesal hati dan menyalahkan semua.Continue reading →