Perihal Kacamata dan Kehilangan

SEORANG pemuda mengirimkan sebuah pesan singkat melalui ponselnya kepada seorang gadis yang jauh disana. Pemuda itu mengabarkan kepada gadis tentang kedua orangtuanya sedang menonton konser dangdut Rhoma Irama di kotanya. Seperti melihat sebuah jalinan cinta yang tak terputus oleh waktu, pemuda itu hanya ingin bercerita.

Tetapi gadis itu sedang tidak dalam keadaan bahagia. Dia baru saja dilanda kehilangan. Gadis itu hanya membalas pesan singkat sekedarnya. Percakapan itu berlangsung singkat, tahulah si pemuda bahwa uang si gadis baru saja dicuri. Hanya saja si gadis baru menyadari kehilangan pada malam hari. Dompet dan kartu berharga masih tersimpan, yang dicuri adalah beberapa lembar uang biru dan merah. Si gadis menangis, bukan karena nilai uang yang hilang melainkan menyesali karena si gadis tak bisa menjaga barangnya sendiri, uang itu adalah upah yang didapatnya saat mengajar di Sekolah.

Pemuda itu mencoba menenangkan suasana, memberikan beberapa solusi agar tetap tenang dan ikhlas. Namun si gadis masih larut dalam kesedihannya. Dia menceritakan kepada si pemuda betapa beratnya merelakan sebuah kehilangan. Airmata gadis itu tumpah menyesali keadaan. Dalam pesan singkatnya, si pemuda mencoba bergurau dengan menanyakan:

“Apakah airmatamu sudah menjadi mutiara? Dengan begitu kehilangan uangmu akan terkembalikan”

Si gadis merasa gurauan tersebut terasa mengejek, “Dasar lelaki tak berperasaan!”.

Pemuda itu tetap mengajak bergurau, hingga tiba pada suatu percakapan tentang pemadaman listrik. Si gadis balik mengejek pemuda itu tentang pemadaman listrik yang baru saja dialami oleh pemuda.

“Bukankah jika listrik padam, kita hanya mencoba menyalakannya kembali?”. Ucap si pemuda.

“Bila terus menyala, tak perlu menyalakan (lagi) bukan?” timpal si gadis.

Pemuda itu menjelaskan tentang padamnya listrik beberapa waktu lalu. Si Pemuda itu bercerita bahwa itu adalah sebuah masalah yang harus dihadapi dan menjadikan itu sebagai momen pembelajaran. Namun sepertinya si gadis menolak untuk menerima pernyataan si pemuda. Pemuda itu tetap menjelaskan bahwa putusnya jaringan listrik kota membuat pembangkit listriknya lumpuh total. Itu adalah alasan yang sangat rasional, siapapun tak ada yang mau listrik padam.

“Tapi masalah adalah masalah, solusi adalah jawabannya” ucap si pemuda.

Namun si gadis pintar mengalihkan pembicaraan. Dia mengajak membicarakan sebuah konser musik di televisi. Si pemuda sadar, si gadis sedang mengalihkan pembicaraan. Lalu, percakapan itu berhenti sejenak saat si gadis hendak makan malam.

Malam makin larut, percakapan dilanjutkan kembali. Ponsel si pemuda bergetar, menerima pesan singkat dari gadis. Menu makan malam yang enak tak menyurutkan si gadis untuk membicarakan perihal kehilangan uang lagi. Sepertinya mengikhlaskan sesuatu itu memang sulit.

Si pemuda iseng bertanya tentang sebuah foto yang ada di facebook milik si gadis. Pada foto itu si gadis tak lagi mengenakan kacamata seperti yang ia kenakan saat terakhir kali bertemu.

“Cantik mengenakan atau tidak mengenakan kacamata?”

“Ah, pertanyaanmu menjebak”

“Jawab saja”

“Tahun lalu, terakhir kali aku lihat kau mengenakan kacamata, hingga sekarang aku hanya ingat kau mengenakan kacamata” ucap si pemuda, menolak memberi jawaban.

“Lalu, setelah melihat foto itu mana yang lebih cantik?” tanya si gadis lagi.

“Cantik itu hanya kau yang tahu, kacamata bukan penentu. Sebab kecantikan sejati ada disini, di hati. Mengenakan atau tidak, dimataku tetap enak dipandang.” Ucap Si Pemuda, berusaha untuk tidak menjawab pertanyaan.

“Kau sedang tidak menjawab pertanyaanku. Jawab saja cantik yang mana?” Si gadis tetap bersikukuh menanyakan pertanyaan yang sama.

Pemuda itu tetap pada pilihan untuk tidak menjawab sembari merangkai kata pelarian dari pertanyaan.

Si gadis pun masih terus melontarkan pertanyaan yang sama, bertubi-tubi pesan dikirimkan. Akhirnya si pemuda menyerah ia berjanji akan menjawab pertanyaan hanya bila si gadis tidak marah/tersinggung dan sebagainya yang berkaitan dengan perasaan.

“Lebih terlihat cantik mengenakan kacamata” jawab si pemuda.

Si gadis seperti tak percaya, “Ah, masa?” dia bertanya lagi. “Jika aku menjadi lelaki, aku tak bisa memilih. Kedua-duanya terlihat cantik”. Gurau si gadis.

“Hal terakhir dilihat, itu juga yang terakhir dikenang. Itulah kenapa wajahmu terlihat lebih cantik ketika mengenakan kacamata. Sebab, ketika melihat fotomu di Facebook tanpa kacamata, aku seperti melihat orang asing. Ucap si pemuda datar.

“Tidur, ngantuk”. Pesan terakhir yang disampaikan oleh si gadis.

Padahal masih banyak pertanyaan yang tersimpan dalam kepala pemuda itu. Segelas kopi yang dia seduh baru habis setengah tapi si gadis sudah memutuskan untuk tidur. Barangkali cinta seperti kopi susu, si pemuda minum kopi, begadang menunggu pesan si gadis sedangkan si gadis minum susu agar cepat tidur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: